Kamis, 26 April 2012
Lomba PBB dan LBB Piala Gubernur Jabar dan Rektor Unla
Teknologi Pemerintahan
Sabtu, 08 Oktober 2011
Timnas Indonesia Memang Layak Kalah!

Oleh: Dedy Rahmat
Judul di atas, memang terdengar pesimistis dan terkesan tidak “membangun”, setelah kita melihat kekalahan menyakitkan Tim Nasional kita yang berlaga di pertandingan sepakbola Pra Piala Dunia 2014. Belum pulih dari kekalahan telak 3-0 dari Iran belum lama ini, kemarin kita kembali dihantam Bahrain 2-0. Kekalahan ini begitu pedih mengingat rakyat Indonesia saat ini “miskin hiburan”. Apalagi kalo kita maklumi hiburan yang menyakitkan sehari-hari adalah berita tentang korupsi pejabat-pejabat negara, kelakuan buruk artis Indonesia, gosip-gosip selebritis yang tidak membangun, dll.
Indonesia memang layak kalah! Seperti kata pelatih timnas kita Wim Rijsbergen. "Saya minta maaf atas kekalahan ini. Kami harus menerima kekalahan ini, karena para pemain mudah kehilangan bola walaupun hanya sedikit tekanan dari lawan. Intinya Indonesia memang layak kalah," tutur pelatih asal Belanda itu. Wim juga menegaskan, skuad yang dimilikinya saat ini tidak layak untuk bermain di level internasional. (http://bola.vivanews.com/, diakases Kamis, 8 September 2011).
Jika kita dengar ungkapan Wim seperti itu, bisa jadi emosi kita malah terpancing dan rasa “kebangsaan” malah muncul (sudah kalah kok malah dihina, bukan dimotivasi). Seperti yang dikatakan Firman Utina, gelandang timnas di account twitter-nya, “Saat sekarang kami bagaikan anak ayam yang ditinggal induknya. Tapi harus diingat kita adalah 1 tim yg harus 1 dan tidak bercerai berai...Seharusnya kita cari solusinya sama menir (Wim),” pungkas pemain 29 tahun itu. (http://bola.vivanews.com/, dikases Kamis, 8 September 2011).
Konon Wim bahkan memaki-maki timnas, saat jeda pertindingan antara Indonesia-Bahrain (Selasa, 6/09/2011 lalu). Seperti yang dikatakan Alferd Riedl (mantan pelatih timnas), yang menyatakan Wim menungkapkan umpatan: "f*ck you all, apabila kalian tidak bermain baik di babak kedua saya akan tendang kalian semua dari tim ini" (If you don't play better in the second half I will kick all of you out). Bukan main tapi sungguh nyata! Daripada memberi semangat kepada para pemain usai tertinggal 1-0, dia malah menghina mereka,” demikian dikatakan Riedl dalam wawancara seperti dilansir http://www.goal.com, (dikases Kamis, 8 September 2011).
Belakangan, pernyataan Wim ini dibela salah satu anggota Komite Eksekutif PSSI, Bob Hippy, seperti dikatakannya kepada wartawan (http://detik.sport.com, diakses Kamis, 8 September 2011). Menurut Bob, pelatih memaki pemain itu biasa, seperti halnya Fabio Capello kepada Frank Lampard saat menangani tim Inggris atau Jose Mourinho, pelatih kontrofersial yang kini menangani Real Madrid itu.
Saya kira, persoalan di tubuh PSSI justru lebih menonjol dibanding masalah-masalah di atas. Menurut saya, Wim bukanlah “induk harimau”. Apalagi induk harimau yang memangsa anaknya sendiri (ingat peribahasa: tidak ada induk harimau yang memangsa anaknya sendiri!). Ungkapan Wim tidak lebih sebagai ungkapan kekecewaan. Tetapi dibalik semua itu, saya berusaha husnuzon, alias positive thinking. Begitulah cara Wim dalam memberikan cambuk agar timnya lebih terpacu memenangkan pertandingan. Terkadang kata-kata menyakitkan itu tidak selamanya sekedar terlihat seperti tamparan yang pedas. Tetapi dibalik semua itu, kebalikan dari apa yang diungkapkan Wim adalah: “Bermainlah sesuai pola, konsentrasi, jangan sering kehilangan bola, patuhi instruksi yang sudah kita sepakati, kalian pasti menang”. Demikian mungkin bahasa Wim jiga “dihaluskan”.
Persolanya, saya kira mungkin Wim bukanlah karakter melankolis, yang dengan lemah lembut dan penuh “kasih sayang dan perasaan” memberikan instruksi atau arahan kepada tim. Ia karakter yang mungkin saja keras. Dalam artian ia to the point dengan apa yang ia perintahkan dan ia sampaikan.
Terlepas dari siapa yang salah, siapa yang benar. Saya kira bukan Wim dan pemain yang salah. Saya lebih melihat proses manajemen di tubuh PSSI yang punya kebiasaan buruk. Yaitu seingkali bongkar pasang pelatih. Kontrak pelatih di Indonesia, biasanya hanya 2 tahunan, itu sudah termasuk lama. Jadi PSSI lebih suka bermain dalam “program jangka pendek, ketimbang program jangka panjang”. Untuk pemain yang berlaga di Indonesia lebih parah, dikontrak rata-rata hanya setahun (atau satu musim)! Bahkan ada kesan di Indonesia, jiga sang pimpinan berganti, maka orang-orang dibawahnya juga harus berganti. Hal ini tidak saja kita temui di dunia politik, tapi juga di dunia sepakbola. Ada kesan, jika pemimpinnya baru, maka segala macam “produk lama adalah salah”. Seperti halnya PSSI yang baru saja dipimpin oleh wajah baru, dan produk lama berhasil didepak.
Pelatih atau pemain memerlukan proses untuk membentuk sebuah sinergi menjadi tim yang hebat yang siap diturunkan di segala “medan pertempuran”. Tidak mungkin semua itu disulap dalam sekejap. Pelatih dan pemain itu perlu proses dalam mempelajari segala hal. Bukan saja soal teknik bermain bola. Tapi sejarah, budaya, dan kecenderungan lain yang melekat pada sumberdaya manusia itu, memerlukan waktu yang cukup panjang. Jika kita analogikan kepada seorang sarjana saja, ia digembleng selama 5 tahun dulu sebelum dilepas untuk hidup secara mandiri. Jadi kebiasan PSSI yang selalu mempersiapkan pelatih dan tim “setengah matang” itu sebaiknya dihentikan. Berilah waktu yang lebih proporsional untuk membentuk sebuah tim tangguh.
Kembali ke soal pernyataan pemain soal pelatih (sepeti yang diungkapkan Firman Utina di atas). Saya kira, sebaiknya pemain lebih bermental baja, dan kurangi mengeluh yang tidak perlu. Seharusnya pernyataan Wim menjadi cambuk untuk membuktikan bahwa ia dan seluruh tim mampu berbuat lebih baik, atau membuktikan kepada Wim dan rakyat Indonesia bahwa “kami bisa bermain lebih baik, dan pernyataan soal buruknya tim kami tidak selamanya benar!”. Titik!
Saya terkesan dan sangat berbesar hati ketika mantan pemain nasional kita Rahmad Darmawan (yang kini aktif sebagai pelatih) pernah mengatakan, bahwa ia bersama teman-temanya saat masih aktif sebagai pemain bola mendapat sebuah pelajaran berharga ketika digembleng secara fisik dan mental oleh militer (ketika itu oleh ABRI). Ia pernah mengungkapkan bagaimana melalui didikan disiplin militer timnas dulu harus bangun subuh setiap hari, bahkan ketika puasa pun porsi latihan tetap normal seperti hari biasa. Hasilnya, kata Rahmad, tidak begitu mengecewakan, timnas menjadi sebuah tim yang solid dan tangguh. Sempat dua kali menjuarai Sea Games, dan bahkan di era 80 an sempat hampir lolos dalam putaran Pra Piala Dunia, dan menjadi pesaing ketat Korsel dan Jepang, yang kini prestasinya jauh di atas kita.
Pertanyaan dari semua pendapat di atas, mampukah Timnas Indonesia kembali bangkit? Tidak ada yang tidak mungkin. Rubahlah budaya buruk bongkar pasang pemain dan pelatih yang terlalu cepat. Dan tentu saja, PSSI harus berbenah diri, karena korupsi, kolusi, dan nepostisme itu dinilai berbagai pengamat tidak saja ada dalam kancah politik belaka. Tetapi, di dunia olahraga, khususnya di tubuh PSSI itu juga masih terjadi. Kabarnya wasit, pemain, bahkan pengurus tim sepakboila di Indoensia masih rawan KKN. Jika semua itu masih terjadi, kita harus meningkatkan kesabaran menunggu kejayaan timnas kita yang entah sampai kapan...
Senin, 02 Mei 2011
Teknologi Pemerintahan
Saat ini Dunia memasuki Generasi Manajemen ke-5. Yaitu suatu konsep manajemen yang berbasis Konwledge and Human Networking, dimana sumber kekuatannya adalah jaringan antar profesional.Perkembangan generasi manajemen ini, tidak lepas dari kemajuan teknologi informasi yang merambah ke semua aspek kehidupan. Digitalisasi, telah menggeser secara cepat budaya kerja manual, sehingga menurut Bill Gates (pakar teknologi informasi/pendiri microsoft), "Dalam 30 tahun terakhir ini terdapat perkembangan yang sangat cepat, dimana hampir semua orang menjadi pekerja informasi"...
Tetapi...
- Apa yang dimaksud teknologi dan teknologi informasi?
- Apa manfaat penguasaan teknologi informasi bagi pemerintah dan masyarakat? dan Mengapa Pemerintah harus adaptif dengan teknologi tersebut?
- Apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti, kehidupan manusia telah berubah menjadi kehidupan yang serba digital?
Minggu, 01 Mei 2011
Perahu Botol Pertama di Dunia Buatan Mapella
Rifa Nadia NurfuadahJAKARTA - Kebayang enggak, ada perahu terbuat dari seribu lebih botol plastik minuman isotonik? Mahasiswa Pecinta Alam Langlangbuana (Mapella) dari Universitas Langlangbuana (unla), Bandung, membuktikan bahwa hal itu bisa dilakukan.
Selama sekira sebulan, anggota Mapella merakit 1.627 botol minuman isotonik menjadi sebuah perahu. Salah satu anggota Mapella Dedy Rahmat mengklaim, perahu botol buatan Mapella adalah yang pertama di dunia.
“Kami telah mencoba melakukan penelusuran di internet bahwa pembuatan replika perahu karet dari kumpulan botol yang juga bisa digunakan ini belum pernah ada di Indonesia, bahkan di dunia. Untuk sementara ini, kami yakin ini adalah produk yang langka dan yang pertama ada,” ujar Dedy seperti dikutip dari keterangan tertulis Mapella, Rabu (27/4/2011).
Ketua Mapella Wanto Nurjaman menjelaskan, pembuatan perahu ini dilakukan dengan menambatkan seluruh botol, setelah itu menambatkan antarlapisan botol, dan terakhir menambatkan dengan bambu.
Wanto menegaskan, proses penambatan itu tidak mudah dan memerlukan ketelitian. Menurutnya, kesalahan tambatan akan mengakibatkan botol terlepas. "Alhamdulillah, setelah kami uji coba, ternyata tidak ada satu tambatan pun yang terlepas. Seluruh botol tetap tertambat meski kami melakukan pengarungan dari pukul enam pagi sampai menjelang azan Ashar,” Wanto menjelaskan.
Hal tersebut diamini Dedy. Uji coba yang dilakukan di Situ Patengan, Ciwidey, membuktikan, perahu ini laik dipakai. "Tak ada kendala berarti ketika perahu digunakan mengitari seluruh area danau," kata Dedy menambahkan.
Dedy menjelaskan, perahu botol yang dibuat dalam rangka memperingati HUT ke-370 Kabupaten Bandung itu mampu mengangkut hingga tujuh orang. “Tetapi yang paling tepat adalah untuk kapasitas lima orang, yaitu empat orang pendayung dan satu orang skipper/pemegang kemudi perahu,” ujar Dedy mengimbuhkan.
Anggota Mapella angkatan Hujan Rimba (1997) itu menambahkan, karakteristik perahu botol buatan mereka tidak jauh beda dengan perahu karet. Ia bisa mengambang dan volume air yang masuk ke dalam perahu juga tidak jauh beda dengan volume air di perahu karet. Oleh karena itu, perahu botol ini juga bisa menggantikan perahu karet sebagai sarana transportasi ketika banjir.
Mapella berencana mendaftarkan perahu botol kreasi mereka ke Museum Rekor Indonesia (Muri). “Insya Allah kami akan segera mendaftarkan ke Muri. Mudah-mudahan dalam waktu dekat segera terealisasi,” kata Wanto.
Anggota Mapella angkatan Badai Rimba (2010) ini yakin, menembus rekor Muri tidak akan terlalu sulit. "Selain yang pertama ada di Indonesia," kata Wanto, "Pembuatan pembuatan perahu botol ini cukup sulit, dengan menggunakan tambatan dari tali nilon antarbotol, dibantu dengan beberapa bambu sebagai tulang penyangga."
Bravo, Unla!(rfa)
sumber: http://okezone.com
Selasa, 05 Oktober 2010
Minggu, 15 Agustus 2010
lampu redup 15 watt
lampu redup 5 watt sesekali mati, hidup kembalisedikit memancarkan cahaya pada sudut kamarku yang gelap
secangkir kopi panas, sebatang rokok
dua orang sahabat yang setia menemani
cahaya monitor usang laptop pentium III memantul
bahu membahu bersama lampu redup jadi pelita
di sudut kamar, aku berjalan mundur
coba ungkap tabir perjalanan hidup
berjalan mundur...
ya layaknya moonwalking ala michael jackson
dalam tiap langkah, kuingat lintasan sejarah yang pernah kutorehkan
pada masa lalu, masa kemarin, dan masa kini
kuingat begitu banyak warna yang pernah kugores
dalam kanvas yang sangat panjang
suka, duka, insya Allah pahala, dan dosa bergelimangan
lidahku kelu ketika kuingat dunia
aku lupa, tiap detik lubang tanah ukuran 1x2m
menunggu kehadiranku, takkan ada yang sanggup mencegah
sering kubuang kesempatan memanjatkan doa
yang sejatinya jadi kumpulan timbangan
yang membantuku terhindar dari api yang panas
latah jadi manusia "eling" di bulan penuh berkah
bukanlah "trend" yang salah kaprah, tapi alhamdulillah
mungkin inilah berkah di bulan ramadhan
yang menamparku dengan lemah lembut
layaknya kasih ibu, meskipun sang anak durhaka
yang sabar, meski sang anak kerap membuatnya luka
tetes air mata takkan mungkin kutunjukkan
kucoba bercermin, ya tak ada setetes pun
tapi jauh di dasar hati, mengalir dengan deras
membasahai hingga ke akar-akar hati
jika Sang Maha Perkasa setuju
kuingin jadi penyejuk bagi sahabat dan kerabat
di seluruh penjuru dunia
dan mudah-mudahan mereka jadi penyejukku yang abadi
agar kelak kita bertemu dalam sebuah acara reuni
di tempat terindah jauh di atas langit sana
tapi aku hanya manusia tak sempurna
jika esok kutorehkan luka dan duka
semoga segera tertimbun dengan doa dan suka
dan...lampu 5 watt yang redup itu akhirnya...mati!
..........
Bandung
Dini hari Menjelang Sahur
13 Agustus 2010
Senin, 29 Maret 2010
Link Blog Berbasis Nasionalisme
Selasa, 02 Februari 2010
Post Test Media Pembelajaran Online
Daftar pertanyaan dan pernyataan untuk Peserta Pelatihan Pembelajaran Media Online STMIK Ganesha Bandung 2010
Petunjuk pengisian:
Jelaskan secara singkat dan padat
Pertanyaan:
1. Apa nama email Bapak/Ibu yang lama (jika ada) dan yang baru? …
2. Apa nama alamat blog Bapak/Ibu yang lama (jika ada) dan yang baru? ….
3. Bagaimana cara login/masuk ke dalam email Bapak/Ibu? ….
4. Bagaimana cara login/masuk ke dalam blog Bapak/Ibu? ….
5. Bagaimana cara mem-posting/memuat tulisan di blog Bapak/Ibu? ….
6. Apa manfaat webblog bagi Bapak/Ibu? ….
Pesan-Kesan-Saran:
Pesan dan Kesan mengenai Pelatihan: .....
Saran untuk Panitia/STMIK Ganesha: …..
STOP GLOBAL WARMING!!!
Keadaan ini bukan tidak mungkin terjadi!!! Suatu saat nanti jika kita terus menjadi kontributor pemanasan global Kutub Utara akan makin mencair dan menenggelamkan kota tempat kita tinggal "sehingga kita perlu memperbanyak pakaian renang" untuk mengitari kota. (sumber gambar:http://photos-a.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1)


















































